Perayaan hari raya Idul Adha, sajian utama berupa daging qurban dari sapi atau kambing selalu ditunggu-tunggu oleh orang-orang. Hidangan sedap seperti sate, gulai, dan rendang kadang-kadang menyebabkan kecenderungan untuk memakan dalam jumlah banyak.
Walaupun lezat, mengonsumsi daging merah dalam jumlah besar bisa memiliki efek negatif pada kesehatan fisik Anda, misalnya masalah dengan sistem pencernaan. Tetapi tetap saja, tubuh kita butuh nutrisi yang teratur dan tepat.
Satu masalah gastrointestinal umum yang banyak dilaporkan adalah konstipasi atau sembelit, di mana seseorang merasakan kesulitan dalam pembuangan tinja, fesesnya keras, serta harus mengejan ekstra selama proses defekasi.
Mengapa konsumsi daging yang berlebihan bisa menimbulkan masalah susut pada tinja? Menurut Ira Purnamasari, seorang dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, daging merah memiliki kandungan lemak yang cukup tinggi.
“Menurut Ira, hal tersebut menyebabkan proses pencernaan menjadi lebih lambat saat mengolah makanan,” jelasnya ketika berbicara dengan para wartawan di Surabaya pada hari Sabtu, 7 Juni.
Bukan hanya itu, daging merah juga memiliki serat protein yang kuat serta kandungan zat besi yang tinggi, menyebabkan tinja menjadi lebih padat dan berkelompok. Hal ini membuat usus perlu bekerja ekstra saat buang air besar.
Beberapa gejala utama dari konstipasi yang harus Anda ketahui meliputi rasa kenyang di perut, mengalami peningkatan gas buang angin, frekuensi buang air besar berkurang, tinja menjadi keras dan kering, diperlukan usaha untuk mengejang, hingga kadang timbul bercak darah pada saat BAB.
“Lalu dia juga menyatakan rasa kecewa sesudah buang air besar, merasa masih ada sisa yang tersumbat, serta butuh waktu lebih lama ketika duduk di toilet,” tambahnya.
Namun jangan khawatir, mengalami susah BAB setelah memakan terlalu banyak daging bisa diselesaikan dengan langkah mudah seperti minum air putih secara teratur, menyantap buah dan sayuran, serta menggunakan suplemen probiotik.
“Probiotik bisa mengatasi masalah kekurangan regulasi pada buang air besar. Seperti misalnya bakteri baik di dalam makanan seperti tempe dan yoghurt yang berfungsi untuk mendukung sistem pencernaan agar bekerja dengan lancar,” jelas Ira.
