Banyak sekali kesempatan tanpa kita sadar bahwa otak manusia mampu mengendalikan emosi serta tindakan dengan kekuatan besar. Di dalam keseharian, berbagai pribadi merasakan dirinya sebagai beban kepada pihak lain, meski hal tersebut tak sering dinyatakan begitu saja.
Perasaan tersebut dapat dilihat melalui berbagai tindakan tak langsung yang menggambarkan ketidakpercayaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Menurut artikel di DMNews pada hari Sabtu, 3 Mei, inilah tujuh tingkah laku halus yang umumnya dilakukan individu yang merasa beban bagi sekitarnya sesuai dengan penjelasan psikologis.
1. Terlalu Sering Mengajukan Permohonan Maaf Untuk Perkara-Perkaranya Sepele
Mengucapkan permintaan maaf secara berkelanjutan dapat mencerminkan pandangan bahwa eksistensinya senantiasa menganggu. Secara ilmu psikologi, hal tersebut biasanya berkorelasi dengan rasa percaya diri yang rendah serta kesadaran akan adanya beban akibat keberadaannya orang itu sendiri.
Apabila Anda merasa harus meminta maaf ratusan kali sehari, kemungkinannya bukan saja karena tindakan yang dilakukan, tapi juga akibat dari adanya diri sendiri. Dibalik hal tersebut, mungkin terdapat rasa takut bahwa keperluan atau tingkah laku Anda dapat menyebabkan orang lain menjauh.
2. Enggan Meminta Bantuan
Habit ini bukan saja mengurangi potensi kerjasama yang bermanfaat bagi mereka, tapi juga mengeraskan pendapat bahwa mereka pantas diabaikan. Secara bertahap, situasi tersebut dapat menciptakan perasaan kesepiannya. Sebab, secara fundamental, manusia sangat bergantung satu sama lain. Meminta pertolongan dari pihak luar sebenarnya merupakan karakteristik alami manusia dan tak ada salahnya.
Kau dapat memulainya dengan langkah sederhana, misalnya dengan mengajak teman untuk meninjau pekerjaanmu atau mendapatkan pendapat mereka tentang pilihan yang kau buat. Setelah kau sadar bahwa banyak individu benar-benar bersedia membantumu, hal itu akan membuatmu lebih gampang untuk keluar dari mindset bahwa dirimu hanya menjadi beban.
3. Sulit Menerima Pujian
Seseorang yang mengalami beban ketika mendapat puji dari orang lain cenderung meminimalisir penghargaan tersebut dengan menyatakan, “Itu hanya beruntung saja,” atau “Cuman kebetulan.” Kecondongan untuk menolak pujian semacam ini biasanya berasal dari pandangan diri sendiri sebagai individu yang tak pantas diberikan apresiasi.
Biasanya, saat mendapat pujian secara berlebihan, seseorang cenderung merasakan kekhawatiran jika orang lain mulai melihat bahwa sesungguhnya kita bukanlah hal seperti yang dipikirkannya. Akan tetapi, pemikiran tersebut dapat memperlambat proses perkembangan diri Anda.
4. Terus Mengutuk Diri Sendiri Untuk Kesalahan Yang Sebenarnya Tak Ada Hubungannya
Contohnya, apabila terjadi kesalahan pada agenda acara, mereka mungkin mengatakan, “Selayaknya saya telah memberitahu semua pihak.” Sikap seperti itu umumnya timbul dari rasa takut bahwa bila sesuatu berjalan keliru, mereka pun akan dipersalahkan.
Dengan memulai dengan penilaian diri, mereka merasa mampu mengontrol keadaan. Akan tetapi, hal itu membuatnya lelah secara emosi. Cobalah tanyakan kepada dirimu sendiri: “Sebetulnya siapa yang harus bertanggung jawab?” Mengenali bahwa kesalahan merupakan elemen normal dalam proses kolaboratif akan membantumu untuk tidak terlalu menyiksa diri, serta menciptakan ruang untuk perkembangan bersama-sama.
5. Meninggalkan Lingkaran Sosial
Cara umum yang diambil oleh orang yang berpikir bahwa mereka menjadi bebannya bagi orang lain adalah dengan mengurangi partisipasi dalam kegiatan sosial. Mereka bisa saja tidak hadir pada acara berkumpul, membatalkan janji tanpa alasan kuat, ataupun terpisah dari ikatan emosional yang erat.
Mereka cenderung berkata dalam pikirannya, “mending gak usah hadir, takutnya malah merusak suasana.” Sebenarnya, orang-orang yang mencintai kita umumnya sangat menikmati adanya diri kita. Akan tetapi, perasaan kurang bernilai ini dapat sangat mendalam sehingga memilih untuk menjaga jarak tampak sebagai tindakan yang lebih bijaksana.
6. Menjadi People Pleaser sebagai Bentuk Kompensasi
Sikap baik sangatlah penting. Akan tetapi, jika kita terlampau keras untuk memuaskan orang lain akibat rasa takut ditolak atau dianggap sebagai beban, hal tersebut dapat menimbulkan masalah. Seseorang yang khawatir akan dianggap sebagai beban biasanya berupaya melebihi batas dengan terlalu banyak membantu, sering kali memberikan hadiah, atau selalu menjawab ‘iya’ tanpa ragu demi membuktikan nilai mereka dan keberadaannya yang pantas diterima.
Sebenarnya, hal itu dapat mengarah pada rasa lelah dan seolah-olah Anda dimanfaatkan. Bila Anda merasakan demikian, pertanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya melakukan ini dengan ikhlas, atau justru karena ketakutan akan ditinggalkan?” Cobalah untuk mulai menentukan batasan-batasan kecil, misalnya dengan menolak permintaan yang memang sulit dipenuhi oleh Anda. Hal tersebut bukan merupakan perilaku egois; malahan, ini adalah cara dalam menjaga kesejahteraan diri sendiri.
7. Meremehkan Perasaan Pribadi
Pernahkah kau mengucapkan “tidak apa-apa,” sementara di dalam hati sebenarnya sudah remuk? Banyak individu yang merasa menjadi beban biasanya menutupi perasaan mereka, karena percaya bahwa orang lain tak mau mendengarkan. Mereka dengan senang hati memperdengarkan curahan hati orang lain tetapi ragu untuk berbicara tentang milik sendiri.
Bersikap terbuka memang sering kali dianggap beresiko dan bisa menimbulkan kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat mengganggu atau bahkan membuat orang lain menjauh. Akan tetapi, ikatan yang kuat dalam suatu hubungan bermula dari pemberian kesempatan untuk saling bertukar pikiran serta perasaan. Apabila Anda selalu merahasiakan apa yang sedang Anda alami secara emosional, kelihatan seperti segalanya baik-baik saja dari luarnya, namun pada dasarnya kedekatan emosional antara Anda dengan orang lain menjadi sangat tipis.
