Rahasia Ilmiah: Mengungkap Alasan Mengapa Beberapa Spesies Purba Hilang Tanpa Meninggalkan Jejak Fosil

Tidak semua hewan yang hidup di masa lampau meninggalkan jejak dalam bentuk fosil
.
Penelitian Terakhir dari Universitas Lausanne (UNIL) di Swiss menyebutkan bahwa zat kimia alami pada tubuh serta ukuran binatang memiliki peranan penting dalam penentuan apakah bagian tubuh hewani dapat berubah menjadi fosil atau tidak.

Penelitian ini diketuai oleh Nora Corthésy dan dikerjakan bersamaan dengan Farid Saleh, yang merupakan peneliti dari program Ambizione Fellow milik Swiss National Science Foundation di UNIL. Keduanya berhasil mengungkap fakta tentang konten tersebut.
Protein dalam bangkai hewan bisa menyebabkan perubahan konsentrasi oksigen di lingkungannya, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap proses fosilisasi.

“Artinya adalah, dalam alam, dua hewan yang tertimbun bersama-sama dapat memiliki takdir menjadi fosil yang amat sangat berlainan, hanya karena selisih ukuran ataupun kimiawi tubuh mereka,” ungkap Corthésy seperti dilaporkan oleh media tersebut Earth.com, Rabu, 7 Mei 2025.

” Salah satu dapat menghilang secara keseluruhan, sedangkan yang lain mungkin terabadikan dalam batu,” jelas Saleh menambahkan.

Pada tahap pembusukan, protein cenderung mengalami dekomposisi lebih cepat dibandingkan lemak. Proses tersebut menyebabkan penurunan drastis tingkat oksigen di area mayat, yang pada gilirannya mendukung aktivitas bakteri anaerob. Bakteri-bakteri ini berkontribusi dalam percepatan transformasi jaringan tubuh menjadi mineral seperti besi sulfida atau kalsium fosfat. Komponen-komponen mineral ini memiliki kapabilitas unik untuk menjaga detil-detail halus organisme.

Baca juga :  Perbandingan Kepribadian: Apakah Pemilik Anjing Lebih Ekstrovert dari Penggemar Kucing?

Satwa-satwau bertubuh raksasa serta mengandalkan protein melimpah punya kesempatan lebih baik buat jadi fosil, sebab kondisi kimia yang mensupport perlindungan bakal gampang dibentuk. Di samping itu, organisme mini dengan kadar protein tipis umumnya tak tertinggal sama sekali dalam arsip fosil.

Keadaan itu dipercaya sebagai alasannya kenapa fosil yang berasal dari ratusan juta tahun silam lebih sering memperlihatkan keberadaan spesies semacam arthropoda daripada cacing.

Peneliti pun menggarisbawahi bahwa proses fosilisasi tak cuma ditentukan oleh adanya tulang atau cangkang yang keras saja. Kandungan zat kimia dalam jaringan lembut –terlebih lagi tingkat protein– ikut mempengaruhi kesempatan untuk dilestarikan sebagai fosil. Spesimen dengan tekstur lunak tapi memiliki jumlah protein tinggi bisa jadi malah lebih berpeluang menjadi fosil ketimbang binatang bertulang keras tetapi kurang protein, tergantung dari interaksi kimianya disekitarnya.

Penelitian yang sudah dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini juga mengindikasikan bahwa dua binatang yang dikubur pada tempat dan saat yang sama dapat meninggalkan tanda-tanda kimia yang berlainan di endapan lumpur. Ini membuktikan bahwa perbedaan dalam rekaman fosil tak senantiasa merefleksikan populasi spesies yang sebenarnya, tetapi mungkin disebabkan oleh keadaan kimia lingkungan yang kurang memadai untuk proses fosilisasi.

Temuan ini sangat berarti untuk bidang paleontologi, karena dapat mendukung para peneliti dalam mengidentifikasi apakah absennya fosil dari sebuah spesies mencerminkan kehancuran yang nyata atau sekadar akibat kurangnya pelestarian. Tanpa wawasan seperti itu, kontribusi binatang tertentu pada lingkungan zaman dahulu mungkin akan diremehkan.

Baca juga :  9 Makna Hewan dari Mitologi Jaman Kuno, Punya Banyak Arti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *