Apakah Ibu tengah mengandung kembar? Oh, bagus sekali kabar itu! Punya dua buah hati sekaligus pastinya merupakan berkah istimewa untuk setiap ibu.
Namun, Bunda mungkin terkejut ketika dokter menyebutkan bahwa kedua janin hanya memiliki satu plasenta dan Anda mulai bertanya pada diri sendiri, “Apakah hal itu bermakna? Adakah risikonya? Oh tidak, bisakah bayi ini tumbuh dengan sehat?” Jawaban untuk pertanyaan tersebut adalah: Tentu saja bisa, Bunda.
Apakah yang dimaksud dengan bayi kembar yang memiliki plasenta sama?
Dilansir dari
Texaschildrens
, Kembar identik yang menggunakan sebuah plasenta dikenal sebagai kembar monokorionik (MC). Kata korion berasal dari akar katanya di Bahasa Latin yang berarti plasenta, sementara istilah amnion menunjukkan kantong atau membran yang melingkupi tiap bayi dalam kandungan.
Kembar monokorionik merupakan kembar dengan genetik yang sama persis dan bersama-sama memiliki plasenta. Plasenta ini merujuk kepada organ yang bertumbuhan dalam rahim sepanjang masa kehamilan serta melekat pada dindingnya, memberikan asupan gizi dan oksigen untuk embrio melalui tali pusarnya. Umumnya, sebuah plasenta mendukung pertumbuhan satu janin. Jika kondisi tersebut mengharuskan dua janin membagi satu plasenta, hal itu bisa membawa risiko atau masalah kesehatan tertentu.
Kembar fraternal (hasil dari dua sel telur dan dua spermatozoa) biasanya dilindungi oleh membran amnion mereka sendiri dan memiliki plasenta tersendiri. Oleh karena itu, semua jenis kelahiran kembar ini memiliki potensi masalah medis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan tunggal (saat satu bayi dikandung). Kembar monokorionik, di sisi lain, berada dalam situasi yang lebih berisiko karena menggunakan plasenta yang sama.
Pada sejumlah situasi, masalah-masalah tersebut bisa memburuk hingga membahayakan hidup salah satunya atau kedua bayi itu. Sekitar 70% dari kelahiran kembar identik merupakan jenis monokorionik. Untuk sisi lainnya, masing-masing si kembar punya plasenta tersendiri (yang biasa disebut dengan istilah kembar dikorionik). Hanya ada kurang lebih 1% di antara pasangan kembar identik yang sama-sama menggunakan satu plasenta dan satu tempat kehidupannya; kondisi ini menyertakan resiko cukup besar.
Dilansir dari
Fetusucsf,
Jika dua janin membagi sebuah plasenta, tali pusar mereka bisa melekat di tempat apa pun; tak ada aturan baku atau prediktif tentang hal itu. Terletak di mana saja sesuai dengan pemasangan mereka, satu bayi kembar mungkin mendapat bagian yang lebih kecil dari plasenta dibandingkan pasangannya. Ini menyebabkan aliran darah dan gizi yang kurang pada salah satu janin serta lebih banyak untuk janin satunya lagi akibat pembagian plasenta yang tidak seimbang tersebut.
Sehingga, walaupun kembar identik umumnya memiliki genetik yang serupa, mereka bisa tetap berkembang dengan cara yang berbeda. Sama seperti akar pohon, vena yang berasal dari masing-masing tali pusar dan melekat padanya dapat saling menyatu di bawah kulit, tanpa adanya pemisahan dalam satu plasenta. Bergantung pada jenis pembuluh darah mana yang tersambung, satu janin dapat mendonorkan darah kepada janin yang lain.
Potensi komplikasi
Di luar risiko yang biasa ditemui dalam setiap kehamilan ganda, misalnya persalinan premature, bayi kembar dengan kordon satu juga memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi masalah-masalah serius akibat mereka membagi plasenta yang sama.
Vena penghubung pada plasenta yang sama membolehkan bayi berkongsi bekalan darah. Ini boleh menjejaskan keseimbangan aliran darah dan isi padu darah secara tidak selesa, ancamannya ia boleh membahayakan perkembangan serta kehidupan salah satu atau kedua-dua kanak-kanak kembar tersebut.
Kemungkinan komplikasi mencakup:
- Kelahiran yang terjadi sebelum waktunya serta bobot bayi di bawah normal.
- Pembatasan tumbuh kembang janin secara selektif (sFGR) adalah kondisi di mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang kurang baik pada salah satu dari bayi kembar akibat pembagian plasenta yang tidak seimbang.
- Sindrom transfusi antar-kembar (TTTS) adalah pertukaran darah yang cukup cepat dari satu janin ke janin lainnya. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan tepat, bisa mengakibatkannya terjadinya gagal jantung pada janin serta meninggalnya salah satu atau bahkan kedua bayi kembar tersebut.
- Deretan kasus polisitemia anemia kembar (TAPS) melibatkan pertukaran sel darah merah antar janin berlangsung dengan cukup lambat dari satu kepada yang lain, kondisi ini apabila tak ditangani bisa membahayakan nyawa salah seorang bayi atau bahkan keduanya.
- Susunan pembuluh arteri yang terbalik pada kembar tersambung (TRAP) menyebabkan aliran darah tidak normal, sehingga menciptakan situasi di mana salah satu bayi kembar tumbuh dengan baik sementara satunya lagi menderita kelainan serius seperti akardia.
- Komplikasi pada tali pusat seperti terjalin atau tertekan bisa menghalangi atau memutus aliran darah menuju janin. Hal ini merupakan salah satu ancaman bagi bayi kembar yang memiliki kantong ketuban bersama-sama (moniamirotik).
- Disfungsi air ketuban, entah itu oligohidramnion (jumlahnya kurang) atau polihidramnion ( jumlahnya berlebih ).
- Kondisi lahir bawaan, seperti defect jantung, neural tube defects, serta kelainan pada otak.
- Tertundanya pertumbuhan, yang mungkin mencakup masalah pembelajaran ringan sampai ke tingkat kelumpuhan tertentu.
- Kematian janin dalam rahim terjadi pada salah satu atau kedua bayi kembar.
- Presepsia (peningkatan tekanan darah pada ibu bersama gejala-gejala kerusakan organ).
- Perdarahan pasca persalinan.
![]() Hamil Kembar/ Foto: |
Bisakah bayi kembar yang memiliki satu plasenta tumbuh dan berkembang?
Walau punya risiko yang lebih besar daripada bayi kembar dengan plasenta terpisah, bayi kembar bersamaan satu plasenta (monokorionik) tetap bisa tumbuh sehat apabila mereka mendapat pantauan intensif serta penanganan medis yang sesuai ya Bunda.
Jenis kehamilan ini memang mengandung risiko lebih besar, misalnya gangguan pada peredaran darah (TTCS), perkembangan janin yang tak seragam, ataupun persalinan sebelum waktunya. Namun, berdasarkan beberapa laporan, banyak kondisi yang memberikan hasil baik jika dideteksi serta diobati sedari awal. Oleh karena itu, pemeriksaan berkala tiap dua pekan dimulai dari usia kandungan 16 minggu sangat direkomendasikan.
Ini ditunjukkan melalui berbagai kajian kedokteran yang mengungkapkan probabilitas sukses yang cukup besar, lebih-lebih lagi ketika didukung dengan pengawasan ekstra. Sebuah laporan dalam jurnal tersebut menyatakan hal itu.
Frontiers in Pediatrics
menyebutkan bahwa 74% kehamilan MCDA yang memiliki perbedaan berat bayi masih terus berkembang sampai umur kehamilan mencapai 30 minggu atau lebih.
Hanya 4% yang melahirkan sebelum usia 26 minggu, dan kebanyakan bayi lahir dalam kondisi sehat berkat tindak lanjut medis.
Sementara itu dikutip dari
Pubmed,
Untuk kehamilan kembar monoamnionik (MCMA), angka kelangsungan hidup diperkirakan mencapai sekitar 78%, namun terdapat peningkatan risiko komplikasi seperti simpangan tali pusat serta kematian janin yang berkelipatan.
Saran untuk memastikan pertumbuhan bayi kembar yang sehat
Bagi ibu hamil dengan kehamilan bayi kembar yang memiliki plasenta bersamaan, berikut adalah tahapan-tahap penting yang biasanya dijalankan oleh dokter:
- Pemeriksaan USG setiap dua pekan mulai umur kehamilan 16 minggu.
- Pengawasan bobot bayi dalam kandungan, sirkulasi darah, serta keadaan plasenta.
- Waktu kelahiran terbaik umumnya ditetapkan antara usia kehamilan 34 hingga 36 minggu.
- Melahirkan di rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas NICU sebagai tindakan pencegahan.
|
Pilihan Redaksi
|
Untuk bunda yang ingin berbagi pengalaman tentang parenthood sambil memiliki kesempatan memenangkan hadiah-hadiah menarik, silakan bergabung dengan komunitas Squad. Untuk mendaftar, cukup klik link ini.
SINI.
Gratis!




