4 Tips Hubungan Sehat Menurut Psikologi agar Terhindar dari Hubungan Toxic dan Konflik Merusak

Toxic relationship atau hubungan toxic adalah masalah yang semakin banyak dialami oleh pasangan masa kini.

Padahal, memiliki hubungan sehat dengan seseorang yang kita cintai seharusnya bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup.

Sentuhan kecil, perhatian tulus, atau sekadar kata-kata penuh kasih bisa membuat hati berbunga-bunga dan mempererat ikatan emosional.

Namun, kenyataannya tidak semua hubungan berjalan ideal. Di balik hubungan yang sehat, ada pula dinamika yang merusak seperti obsesi berlebihan, sikap mengekang, hingga kata-kata abusif yang menjadi ciri dari hubungan toxic.

Sebuah studi di Jurnal Penelitian Keperawatan yang diakses melalui doi.org menunjukkan bahwa dari 130 responden, sekitar 60% pernah merasakan toxic relationship dengan pasangan, sementara 40% lainnya mengalaminya dalam lingkup pertemanan.

Angka ini menunjukkan bahwa risiko berada dalam hubungan toxic cukup tinggi dan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini? Simak beberapa tips hubungan sehat untuk menghindari toxic relationship berikut ini.

1. Pentingnya Psikologi dalam Hubungan Cinta

Langkah pertama untuk mengenali apakah hubungan yang sedang dijalani adalah hubungan yang sehat atau tidak adalah mengenali diri sendiri.

Dalam hal ini, Psikologi memegang peran yang penting tentang bagaimana seseorang memandang dan menjalani sebuah hubungan cinta.

Saat menjalin sebuah hubungan dengan seseorang – tidak harus cinta saja – Anda harus coba mendengarkan perasaan Anda.

Baca juga :  5 Setelan HP Android agar Awet Bertahun-tahun,Belum Banyak yang Tahu

“Apakah saya nyaman dalam hubungan ini?” atau mungkin lebih spesifik seperti “Kenapa saya merasa tidak dihargai ya?”

Dengan mendengarkan perasaan-perasaan ini, Anda dapat menentukan apakah hubungan yang Anda jalani adalah hubungan yang sehat atau toxic.

2. Attachment Theory dalam Hubungan Cinta

“Hah teori lagi? Di kuliah sudah dapat teori masa di sini juga?” Eits, jangan terintimidasi dulu. Teori ini tidak kompleks dan akan saya jelaskan dengan simpel.

Dilansir dari Simply Psychology, pada dasarnya, Teori keterikatan disini adalah perasaan yang mendasari hubungan Anda dengan seseorang.

Simply Psychology menjelaskan bahwa teori keterikatan di sini adalah perasaan yang mendasari hubungan Anda dengan seseorang.

Umumnya ada 4 kategori dalam teori keterikatan. Ada yang menjalin hubungan dengan attachment aman, sehingga mudah percaya dan merasa nyaman dalam hubungan.

Ada juga yang cenderung memiliki attachment cemas atau menghindar, yang membuat mereka overthinking, takut ditinggalkan, atau justru kesulitan membuka diri.

Pola attachment ini sangat memengaruhi kualitas hubungan, apakah akan berjalan sebagai hubungan sehat atau malah berubah menjadi hubungan toxic yang melelahkan secara emosional.

3. Faktor Psikologis yang Membentuk Hubungan Sehat

Dilansir dari Healthline, hal paling penting dalam sebuah hubungan yang sehat adalah adaptibilitas. Pada dasarnya, sebuah hubungan seharusnya dipenuhi oleh toleransi terhadap berbagai macam situasi.

Sebagai contoh, ketika pasangan Anda sedang sibuk atau bersama teman mereka, Anda menoleransi pilihan mereka untuk tidak menjawab pesan-pesan Anda.

Baca juga :  Tips Perawatan Motor Biar Enggak Rewel Meski Sudah Usia Tua

Tentu saja menoleransi setiap tindakan punya batasnya. Sehingga, komunikasi yang terbuka adalah hal penting yang harus diterapkan di setiap hubungan Anda.

Tidak menjauhi topik yang berat dan bermasalah adalah salah satu contohnya. Anda dapat mengkomunikasikan perasaan Anda dengan terbuka dan yang paling penting tanpa sarkasme atau kata-kata pasif agresif.

Hal ini tentunya akan membuat hubungan Anda dengan pasangan Anda semakin sehat.

4. Tips agar Terhindar dari Toxic Relationship

Pembukaan yang sangat berisi dan panjang, bukan? Baiklah, tanpa teori psikologis yang rumit, berikut adalah tips untuk memiliki hubungan yang sehat dan terhindar dari toxic relationship.

  • Komunikasi yang baik

Sebagai akar dari hubungan yang sehat, Komunikasi yang terbuka tanpa sarkasme dan menutupi perasaan adalah hal yang penting dalam hubungan.

  • Membangun kepercayaan

Tidak menutup-nutupi dan membohongi pasangan Anda dapat membangun kepercayaan pasangan Anda.

  • Tetap penasaran

Hal ini dalam artian Anda tetap penasaran terhadap hari-harinya, perasaannya dan ketertarikannya.

  • Menghargai satu sama lain

Menghargai pilihan mereka, waktu mereka untuk me time dan perasaan mereka adalah salah satu langkah yang baik dalam hubungan yang sehat.

Resolusi konflikMasih berakar dari komunikasi, menyelesaikan konflik dan tidak menghindari konflik adalah hal yang penting.

Akhir kata

Penting untuk diingat bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, terutama dengan pasangan romantis Anda, pola pikir menang adalah hal yang salah.

Baca juga :  5 Tips Mengurangi Stres Berkepanjangan Akibat Tekanan Pekerjaan

Dalam konteks ini, Anda dan tim Anda adalah pihak yang berhadapan dengan “musuh” berupa masalah kepercayaan atau kesalahpahaman, bukan untuk memenangkan sebuah argumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *