Tips Memilih Sapi Berkualitas untuk Kurban: Bokong Bulat, Daging Melimpah

Satwa Kencana telah menggeluti bisnis penjualan ternak kurban seperti sapi bali dan limosin di area Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur selama lebih dari sepuluh tahun.

Hewan kurban yang ditawarkan telah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan dipastikan bebas dari segala jenis penyakit.

Ali Akbar pemilik peternakan sapi Satwa Kencana mengedukasi tentang cara memilih ternak kurban yang bugar serta bebas dari segala jenis penyakit.

Pertama, menurut Akbar, umur kerbau yang akan disembelih sebagai hewan qurban harus setidaknya dua tahun. Kedua, ia tidak boleh memiliki cacat bahkan sedikitpun.

“Tiga orang tersebut mengatakan bahwa memilih seekor sapi yang baik berarti pantatnya harus bundar karena sebagian besar daging terletak di sana,” paparnya, Selasa (3/6/2025).

Keempat, pembeli perlu cermat ketika memeriksa ternak untuk korban sembelihan dan apabila ragu sebaiknya bawa ahli bersamaan.

Kelima, sambung Akbar, calon pembeli sebaiknya tidak mudah tergoda oleh harga yang rendah dan perlu memastikan bahwa ternak sapi tersebut tidak puyang atau lesu.

“Biasanya jika melihat sapi yang sangat lapar, matanya akan terlihat kosong dan enggan untuk memakan apa pun,” jelasnya.


Kerugian Jual Sapi

Akbar sering kali menderita kerugian karena menemukan ternak kurbannya dalam kondisi tidak sehat. Umumnya, dia akan langsung menyembelih hewan itu dan menjual dagingnya kepada pengecer di pasar tradisional.

Baca juga :  Tanpa Sadar, 7 Tanda Orang Merasa Beban di Sekitar Anda Menurut Psikologi

“Di antara ribuan ternak tentu akan selalu ada beberapa sapi yang sakit. Untuk meminimalisir kerugian signifikan tersebut, akhirnya kami menyembelih mereka dan mendistribusikan dagingnya ke pasaran tradisional,” ungkapnya.

Dia menyatakan, pada tahun 2025 ini terdapat dua ekor sapi yang disembelih lantaran menderita penyakit dan memiliki berat sekitar 350 kg.

Akbar bekerja sama dengan pedagang di pasar tradisional untuk mengatur penjualan daging sapi segar.

“Kebiasaan sapi menjadi sakit disebabkan oleh berbagai sebab, mungkin dikarenakan iklim yang tak tentu, pagi cerah petang hujan seperti yang dialami pada musim ini,” jelasnya.

Alasan lain adalah karena sapi-sapi tersebut menjalani perjalanan jauh ke arah Jakarta selama kira-kira 2 hari dan setengah malam.

Akbar menyatakan bahwa pelanggan di tempat usahanya tak perlu cemas sebab mereka memberikan jaminan pengembalian dana sepenuhnya atau pertukaran dengan bobot serupa apabila ternyata kerbau dalam keadaan sakit.

“Pun demikian dengan jaminan kehidupan, kita dapat menukarnya dengan barang setara atau bahkan lebih berat,” tambahnya.

Sementara itu, Kasudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur, Taufik Yulianto menyebutkan bahwa hingga kini di daerahnya tak ada lagi ternak sapi yang diduga terserang penyakit tersebut.

Dia mengatakan bahwa mereka sebenarnya pernah menemui beberapa penyakit yang gejalanya umum terjadi pada ternak kurban.

“Saat orang-orang ini berasal dari kota atau pulau yang berbeda dan pindah ke Jakarta, kemungkinan besar merasa lelah, bisa jadi terkena flu, dan memerlukan waktu istirahat sebentar. Kita telah bekerja sama dengan para pedagang untuk menyiapkan antisipasinya melalui penyediaan vitamin semacam itu,” ungkapnya.

Baca juga :  Hindari Makanan dan Minuman Ini untuk Pencegahan Asam Urat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *